Enam Bulan yang Mengubah Cara Anak Memandang Buku
Bagaimana 1.000 siswa Kelas 4 membangun kebiasaan membaca melalui PiBo Literaton Pilot 2025/26, dan mengapa perubahan terbesar bukan jumlah buku yang dibaca, melainkan cara mereka memandang membaca itu sendiri.
Tim PiBo
Ketika Membaca Tidak Lagi Menjadi Kewajiban
"Program ini menumbuhkan rasa cinta membaca dari suatu kewajiban yang membosankan menjadi kebutuhan yang menyenangkan."
Kalimat dari Pati Pitriyani, guru di UPTD SDN Jurang Mangu Timur 01, merangkum perubahan yang dirasakan banyak sekolah selama PiBo Literaton Pilot 2025/26.
PiBo Literaton Pilot 2025/26 adalah program penguatan literasi selama enam bulan yang melibatkan 1.000 siswa Kelas 4 dan 40 guru dari 20 sekolah di Banten dan Jawa Barat. Program ini didukung oleh Valbury Asia Futures dan BFI Finance Indonesia, serta menggabungkan kebiasaan membaca harian, akses terhadap bacaan yang menarik, dan pendampingan guru untuk membantu siswa membangun budaya membaca yang lebih kuat.
Karena tantangan terbesar dalam literasi sering kali bukan mengajarkan anak cara membaca.
Tantangan terbesarnya adalah membuat mereka ingin membaca.
Di banyak kelas, buku tersedia. Guru telah mengingatkan. Waktu membaca sudah disediakan.
Namun membangun kebiasaan membaca membutuhkan sesuatu yang lebih: konsistensi.
Selama enam bulan, 40 guru dan 1.000 siswa Kelas 4 dari 20 sekolah di Banten dan Jawa Barat berusaha membangun konsistensi tersebut, satu hari demi satu hari.
Dari Keraguan Menjadi Langkah Pertama
Program dimulai pada November 2025 melalui webinar pembukaan yang mempertemukan 40 guru dari berbagai sekolah.
Sebagian besar guru belum pernah menggunakan platform literasi digital secara intensif. Di tengah padatnya jadwal pembelajaran, muncul pertanyaan yang sama:
Bagaimana caranya membuat anak membaca secara konsisten?
Jawabannya ternyata bukan pada satu kegiatan besar, melainkan pada kebiasaan-kebiasaan kecil yang dilakukan berulang kali.
Guru mulai mengintegrasikan aktivitas membaca ke dalam rutinitas kelas. Siswa diberi ruang untuk memilih bacaan yang mereka sukai. Kemajuan membaca dipantau bersama, sedikit demi sedikit.
Perubahan tidak terjadi dalam semalam. Namun minggu demi minggu, kebiasaan itu mulai tumbuh.
Ketika Membaca Menjadi Rutinitas
Di tengah program, para guru mulai melihat perubahan yang sebelumnya sulit dicapai.
Anak-anak yang biasanya harus diingatkan mulai membuka buku dengan inisiatif sendiri.
Sebagian siswa bahkan mulai mempertahankan kebiasaan membaca selama berminggu-minggu.
Selama program berlangsung:
- 32.896 buku dibuka
- 5.639 jam membaca tercatat
- Rata-rata waktu membaca mencapai 19 menit per hari aktif, melampaui tolok ukur 15 menit
Sebanyak 35 siswa berhasil mempertahankan rangkaian membaca selama lebih dari empat minggu berturut-turut.
Di balik angka-angka tersebut, para guru melihat perubahan yang lebih bermakna.
"Saya berhasil membuat siswa setiap hari menyempatkan untuk membaca," ungkap Oky Berlin Wiyono dari SDN Giriharja.
Bagi seorang guru, perubahan itu bukanlah hal kecil.
Karena kebiasaan yang dilakukan setiap hari sering kali menjadi fondasi bagi perkembangan yang lebih besar di masa depan.
Lebih dari Sekadar Membaca Banyak Buku
Meningkatnya jumlah buku yang dibaca tentu menjadi kabar baik. Namun guru juga melihat perubahan lain.
Siswa mulai lebih terlibat saat berdiskusi tentang bacaan.
Mereka lebih berani menceritakan kembali isi cerita yang dibaca.
Mereka mulai menunjukkan rasa ingin tahu terhadap buku-buku baru.
Seperti yang disampaikan oleh Siti Marjani Al Masyhud dari SDN Tunas Harapan Cijerah:
"Yang berhasil dari program ini adalah dapat membuat siswa yang tadinya kurang minat membaca menjadi lebih meningkat minat membacanya."
Perubahan ini menunjukkan bahwa literasi tidak hanya tentang kemampuan teknis membaca.
Literasi juga tentang membangun hubungan yang positif dengan buku dan proses belajar itu sendiri.
Merayakan Mereka yang Menumbuhkan Budaya Literasi
Pada Hari Wisuda, acara penutupan program di akhir bulan Mei 2026, para siswa, guru, dan sekolah merayakan perjalanan enam bulan yang telah mereka tempuh bersama.
Beberapa siswa mencatat pencapaian yang luar biasa:
- Elang Z. (Bandung) menyelesaikan 515 buku dengan tingkat penyelesaian 94%.
- Siti H. (Serang) mencatat 144 jam membaca selama program berlangsung.
- Harun A. (Cianjur) mencatat 87 hari membaca berturut-turut tanpa putus, bukti membaca sudah menjadi kebiasaan.

Namun keberhasilan program tidak hanya terlihat dari capaian siswa.
Di balik setiap siswa yang mulai rutin membaca, ada guru yang terus mengingatkan, memberi semangat, dan menyediakan ruang bagi anak untuk bertumbuh. Di balik setiap program yang berjalan dengan baik, ada sekolah yang menjadikan literasi sebagai bagian dari budaya belajar sehari-hari.
Karena itu, program juga memberikan apresiasi kepada para pendidik dan sekolah yang menunjukkan komitmen luar biasa sepanjang perjalanan ini.
Guru Pemimpin Literasi
Sisca Amalia, S.Pd.
SDN 093 Tunas Harapan Cijerah, Bandung
Diapresiasi atas kepemimpinannya dalam menggerakkan praktik literasi dan menjaga keterlibatan siswa selama program berlangsung.
Sekolah Berbudaya Literasi
SDN Sukasirna Cilaku Cianjur
Cianjur, Jawa Barat
Diapresiasi atas adopsi program yang kuat serta keterlibatan yang konsisten dari guru maupun siswa.
Penghargaan tersebut bukan sekadar pengakuan atas pencapaian program. Ia menjadi pengingat bahwa budaya membaca tumbuh ketika ada individu dan institusi yang secara konsisten memberi ruang bagi literasi untuk hidup setiap hari.
Dan mungkin, di situlah dampak yang paling penting sebenarnya terlihat. Bukan hanya ketika ribuan buku selesai dibaca. Melainkan ketika seorang anak yang sebelumnya enggan membaca mulai mencari buku berikutnya. Ketika membaca tidak lagi terasa sebagai kewajiban. Ketika buku tidak lagi dipandang sebagai tugas.
Ketika rasa ingin tahu mulai tumbuh dengan sendirinya.
Selama enam bulan, para siswa telah membuka puluhan ribu buku dan menghabiskan ribuan jam untuk membaca. Namun kebiasaan membaca yang tumbuh hari ini memiliki dampak yang jauh melampaui angka-angka tersebut.
Karena pada akhirnya, budaya literasi tidak dibangun oleh satu program atau satu kegiatan.
Ia dibangun oleh guru yang memimpin, sekolah yang mendukung, dan anak-anak yang menemukan bahwa membaca bisa menjadi sesuatu yang mereka nikmati.
Dan setiap halaman yang dibuka hari ini adalah langkah kecil menuju masa depan yang lebih penuh peluang.