Di Balik 1.000 Pembaca Baru: Ketika Guru Semakin Percaya Diri Memimpin Literasi
Bagaimana 40 guru dalam program PiBo Literaton Pilot 2025/26 memperkuat praktik literasi di kelas melalui data, kolaborasi, dan pemahaman yang lebih mendalam tentang perkembangan membaca siswa.

Tim PiBo
Sebelum Mengembangkan Kemampuan Membaca, Guru Perlu Memahaminya
Setiap guru ingin membantu siswanya menjadi pembaca yang lebih baik.
Namun untuk memberikan dukungan yang tepat, guru perlu memahami kemampuan, tantangan, dan perkembangan membaca setiap anak. Hal ini tidak selalu mudah dilakukan di tengah padatnya aktivitas pembelajaran sehari-hari.
Inilah salah satu alasan mengapa 40 guru dari 20 sekolah di Banten dan Jawa Barat bergabung dalam PiBo Literaton 2025/26.
Program penguatan literasi selama enam bulan ini melibatkan 1.000 siswa Kelas 4 dan 40 guru, serta didukung oleh Valbury Asia Futures dan BFI Finance Indonesia. Melalui kebiasaan membaca harian, pelatihan dan pendampingan guru, serta pemantauan perkembangan siswa, program ini membantu sekolah membangun budaya literasi yang lebih kuat.
Bagi banyak peserta, ini juga menjadi pengalaman baru. Sebanyak 92% guru yang mengisi survei belum pernah menggunakan platform pembelajaran digital dalam peran mengajarnya sebelumnya, dan untuk pertama kalinya memiliki akses pada data perkembangan membaca siswa secara lebih terstruktur.
Dari Intuisi Menjadi Pemahaman yang Lebih Mendalam
Seiring program berjalan, guru tidak hanya melihat berapa banyak buku yang dibaca siswa.
Mereka juga mulai memperoleh gambaran yang lebih jelas tentang kemampuan dan perkembangan membaca setiap anak.
Agus Permana dari SD Negeri Cipetir Satu merasakan manfaat tersebut secara langsung.
“Saya jadi tahu kapasitas siswa dalam membaca dan memahami teks.”
Pemahaman seperti ini penting karena membantu guru memberikan pendampingan yang lebih sesuai dengan kebutuhan masing-masing siswa.
Tidak semua anak berkembang dengan kecepatan yang sama.
Dengan informasi yang lebih jelas, guru dapat lebih mudah mengenali siswa yang membutuhkan dukungan tambahan maupun siswa yang siap menghadapi tantangan yang lebih tinggi.
Literasi yang Didukung oleh Data
Bagi sebagian guru, pengalaman yang paling berharga bukan hanya melihat siswa membaca lebih banyak, tetapi juga memiliki cara yang lebih terstruktur untuk memantau perkembangan mereka.
Andini Tahlita dari UPTD SDN Jurang Mangu Timur 01 menjelaskan:
“Program literasi yang sangat menarik di setiap bahan bacaannya, sekaligus bisa tahu cara menilai kecepatan dan ketepatan membaca peserta didik.”
Sementara itu, Sisca Amalia dari SDN 093 Tunas Harapan Cijerah melihat bagaimana data perkembangan siswa dapat membantu proses pembelajaran.
“Guru mendapatkan hasil laporan perkembangan kemampuan membaca dan minat setiap siswa.”
Bagi guru, informasi tersebut bukan sekadar angka.
Informasi tersebut menjadi dasar untuk memahami kebutuhan siswa, merencanakan strategi pembelajaran, dan melihat dampak dari upaya yang telah dilakukan selama program berlangsung.

Belajar Bersama dalam Komunitas Guru
Perjalanan ini juga menjadi ruang belajar bagi para guru.
Melalui webinar, pelatihan, dan Klinik Literasi, para peserta saling berbagi pengalaman tentang strategi yang berhasil diterapkan di kelas masing-masing.
Ada yang memulai rutinitas membaca sebelum pelajaran dimulai. Ada yang memanfaatkan tantangan membaca untuk menjaga motivasi siswa. Ada pula yang melibatkan orang tua agar kebiasaan membaca dapat berlanjut di rumah.
Meski pendekatannya berbeda, para guru memiliki tujuan yang sama: membantu anak menemukan kegembiraan dalam membaca.
Kolaborasi tersebut menciptakan ruang di mana guru tidak hanya menjalankan program, tetapi juga belajar satu sama lain.
Sepanjang program, 34 dari 40 guru menyelesaikan pelatihan tersertifikasi PiBo, fondasi pelatihan untuk fasilitasi literasi yang lebih terstruktur.
Ketika Kepemimpinan Guru Menggerakkan Perubahan
Keberhasilan program tidak hanya ditentukan oleh jumlah buku yang dibaca atau jam membaca yang tercatat.
Keberhasilan tersebut juga lahir dari guru-guru yang secara konsisten menghidupkan praktik literasi di kelas setiap hari.
Pada Hari Wisuda, acara penutupan program di bulan akhir Mei 2026, apresiasi diberikan kepada para pendidik dan sekolah yang menunjukkan komitmen luar biasa sepanjang program berlangsung.
Guru Pemimpin Literasi
Sisca Amalia, S.Pd.
SDN 093 Tunas Harapan Cijerah, Bandung
Diapresiasi atas kepemimpinannya dalam menggerakkan praktik literasi dan menjaga keterlibatan siswa selama program berlangsung.
Sekolah Berbudaya Literasi
SDN Sukasirna Cilaku Cianjur
Cianjur, Jawa Barat

Diapresiasi atas adopsi program yang kuat serta keterlibatan yang konsisten dari guru maupun siswa.
Penghargaan tersebut mencerminkan sesuatu yang lebih besar daripada pencapaian individu.
Ia menunjukkan bahwa budaya literasi dapat tumbuh ketika ada guru yang memimpin perubahan dan sekolah yang mendukungnya secara konsisten.
Ketika Guru Bertumbuh, Siswa Pun Bertumbuh
Selama enam bulan program berlangsung, siswa membuka 32.896 buku dan mencatat lebih dari 5.639 jam membaca.
Namun di balik pencapaian tersebut, terdapat perubahan lain yang tidak kalah penting.
Guru menjadi lebih memahami siswanya.
Guru menjadi lebih percaya diri dalam mendampingi perkembangan membaca.
Perubahan ini juga terlihat dari penilaian guru sendiri. Di akhir program, kepercayaan diri mereka meningkat di tiga aspek penting pengajaran literasi.

Dan guru memiliki lebih banyak informasi untuk mengambil keputusan yang mendukung pembelajaran.
Karena pada akhirnya, membangun budaya literasi bukan hanya tentang membantu anak membaca lebih banyak.
Ia juga tentang memberdayakan guru agar mampu memimpin perjalanan literasi setiap siswa dengan lebih percaya diri.
Dan ketika guru bertumbuh, dampaknya dapat dirasakan oleh seluruh kelas.